Nama Kurnia Effendi saya kenal sejak tahun 1980-an lewat cerpen-cerpennya yang ramai menghiasi majalah remaja yang ngetop masa itu, seperti Gadis dan Anita Cemerlang.

Berbarengan dengannya, ada beberapa nama cerpenis lain, misalnya : Leila S.Chudori (sekarang di majalah Tempo), Adek Alwi (ke mana ya dia?), dan Sannie B.Kuncoro (ini masih sesekali saya lihat cerpennya di Femina) dll. Dengan kerakusan seorang remaja SMP, saya melahap karya-karya mereka meski majalahnya saya dapat dengan cara meminjam. Tulisan-tulisan mereka menemani masa remaja saya dan secara tidak langsung telah turut menumbuhkan minat dan kecintaan saya pada sastra (fiksi).

Sayangnya, beberapa dari nama yang saya sebut di atas, kini nyaris tak lagi bisa saya jumpai cerpen-cerpennya. Kurnia Effendi salah satu yang masih setia bertahan dan tetap produktif hingga kini di bidang yang dicintainya sejak berpuluh tahun lalu itu.

Bercinta di Bawah Bulan adalah bukti betapa ia, Kef, demikian para sahabatnya memanggil, masih terus berkarya. Buku ini memuat sebelas cerpen yang ditulisnya selama tahun 2002-2004 (kecuali Romantic Agony bertahun 1991) dan pernah dimuat di Femina, Media Indonesia, Republika, dan lain-lain.

Tak mengangkat tema-tema baru memang, namun di tangannya kisah cinta biasa saja bisa jadi kisah yang indah memesona. Lihat saja misalnya pada ke tiga cerpen pembuka di buku ini, yaitu : Aku Mulai Mencintaimu, Anggur, Pikiran, dan Cinta, Rumah Senja). Ketiga cerpen tersebut bicara tentang cinta lama dan perselingkuhan dan Kef mengolahnya sedemikian menarik sehingga yang hadir ke hadapan kita adalah sebuah kisah cinta penuh makna.

Kef menulis dengan kelembutan seorang wanita dan tampaknya ia percaya betul pada kekuatan cinta. Tak terlalu salah jika selama bertahun-tahun saya menyangka penulis ini berjenis kelamin perempuan. Padahal ternyata Kef lelaki asli!

Cerpen-cerpen Kef dalam buku ini membawa saya pada sebuah nostalgia dan kerinduan akan karya sastra yang santun, lembut, namun meninggalkan kesan dalam setelahnya. Kef memercayakan kekuatan cerita-ceritanya pada narasi dan keindahan gaya bahasa metafora, bahkan untuk melukiskan adegan persetubuhan yang dahsyat dalam cerpen yang rada-rada surealis seperti Bercinta Di Bawah Bulan, tanpa terjerumus menjadi vulgar :

Oh, mana mungkin ada kesabaran dalam sebuah percintaan yang bergelora? Tentu tiada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, bagi percumbuan yang mirip geliat hiu mengitari mangsanya, sebelum mencabik-cabik korban dengan taringnya, sampai menjadi sayatan-sayatan penuh hamburan warna merah (hal 48)

Dan saya sepenuhnya setuju dengan apa yang Arswendo katakan tentang buku ini, bahwa di tengah banyaknya kumpulan cerpen yang membuka diri soal hubungan manusia, khususnya masalah seks, Kef memikat justru karena keintiman dengan yang selama ini terabaikan : bagaimana menghidupkan kembali narasi inti sebuah cerita.