OK, apa yang membuat buku Roosa sangat menarik dalam pandangan saya adalah penemuan bukti-bukti baru tentang berbagai hal menyangkut Gerakan 30 September (G-30-S) dan sekalian analisis mengenainya, rekonstruksi alternatif atas kejadian G-30-S ala Roosa, serta kearifan yang dikandung oleh buku itu.

“Dalih Pembunuhan Massal”, berbeda dengan buku-buku dengan tema sejenis, tidak serta-merta mengarahkan jari telunjuk kepada pihak-pihak tertentu sebagai dalang G-30-S. Entah itu PKI, Suharto dan komplotan Angkatan Darat-nya, Soekarno, maupun CIA. Roosa agaknya memulai riset untuk bukunya ini dengan pikiran naif dan rasa penasaran yang membuncah. Emm, sebenarnya Roosa (memang) tidak senaif itu dan naskahnya pun tidak sedingin layaknya naskah penelitian yang berjuang sekuat tenaga untuk menjunjung tinggi value free, namun Roosa sedikitnya sengaja –buah dari sikap hati-hatinya- untuk mencermati dan mencerna berbagai bukti baru guna mengkaji apa yang sebenarnya terjadi dalam G-30-S. Oleh karena itu, meski Roosa tampak memiliki tendensi untuk membela PKI –sebagai wacana tandingan terhadap propaganda Orde Baru, Roosa tetap memperlakukan aktor-aktor lain dengan fair dan berimbang. Hal inilah, menurut saya, salah satu keunggulan buku ini.

Selain perlakukan Roosa terhadap bukti, saya pikir kesimpulan buku ini pun cemerlang dan menunjukkan kapabilitas Roosa sebagai sejarawan mumpuni. Roosa tidak menganalisis pelaku/aktor G30S dengan “sekali pukul dan ketahuan, setelah itu selesai.”

“Kelemahan penyelidikan-penyelidikan tentang G-30-S terdahulu terletak pada titik tolak mereka: dugaan bahwa pasti ada dalang di balik gerakan itu. Menurut hemat saya tidak ada ‘otak’ yang utama, apakah ia berupa tokoh, ataukah suatu gugus rapat orang-orang yang terorganisasi mengikuti pembagian kerja serta hierarki kewenangan yang jelas. G-30-S menjadi bersifat misterius justru karena tidak adanya pusat pengambilan keputusan yang tunggal.” (Hal. 293)

Maksudnya, Roosa mendasarkan analisisnya terhadap sejauh mana para aktor itu berkontribusi terhadap G-30-S, di dalamnya juga termasuk pembatasan mengenai hal-hal apa saja yang sebenarnya tidak termasuk kontribusi para aktor tertentu dalam peristiwa G-30-S. Hal inilah yang membuat saya sangat menyukai buku ini. Roosa secara terang-terangan menolak propaganda Angkatan Darat bahwa PKI merupakan aktor utama G-30-S. Roosa menulis bahwa bukti-bukti baru, yaitu dokumen Supardjo, uraian tanggung jawab Sudisman, dan wawancara dengan mantan petinggi PKI bernama samaran “Hasan,” justru tidak menunjukkan demikian. Unsur PKI yang terlibat dalam G-30-S hanya terbatas kepada D.N. Aidit, Syam (Kamaruzaman), dan Biro Khusus. Ketiganya tidak bisa langsung dijadikan sebagai representasi kehendak PKI untuk turut serta dalam G-30-S. Fakta ini sangat memengaruhi kesimpulan Roosa untuk menyatakan bahwa pemberangusan terhadap PKI pada masa pasca-G-30-S yang dilakukan oleh Angkatan Darat, sebagai hasil dari kesimpulan prematur dan propaganda bahwa PKI adalah dalang utama, itu tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang manapun. Dengan kata lain, Angkatan Darat –dalam ungkapan yang sangat halus- telah bertindak tidak proporsional terhadap PKI: pembunuhan beratus ribu –angka pasti belum diketahui- petani, buruh, guru, dan aktivis PKI tentu sangat tidak sepadan dengan kematian tujuh perwira tinggi Angkatan Darat, terlebih lagi apabila dibandingkan dengan hasrat busuk Suharto dan Angkatan Darat untuk berkuasa.

Pada tataran yang lain, Roosa menunjukkan hal yang lebih menarik, yakni kelihaian dan kecerdikan Suharto beserta eksponen Angkatan Darat-nya yang berafiliasi dengan CIA, dalam memanfaatkan G-30-S. Menurut Roosa, Angkatan Darat memang tengah menantikan suatu peristiwa bombastis berkaitan dengan upaya pendongkelan Presiden Sukarno, maupun peristiwa berskala cukup besar lainnya yang memiliki intensi untuk merebut kekuasaan negara. Tujuan mereka, tentu saja, untuk menghancurkan PKI sebagai musuh politik Angkatan Darat dan menjatuhkan Sukarno karena dinilai terlalu dekat dengan PKI sehingga mengancam Angkatan Darat serta kepentingan Amerika Serikat. Angkatan Darat memiliki harapan besar bahwa sekali peristiwa semacam itu terjadi, PKI-lah yang akan didiskreditkan. Bahkan, berdasarkan bukti data-data CIA yang telah dideklasifikasikan, Roosa menulis bahwa Angkatan Darat sengaja menghembuskan isu dan berbagai upaya lain guna memancing PKI melakukan semacam upaya pendongkelan kekuasaan negara. Salah satu manifestasi strategi busuk Angkatan Darat ini adalah isu Dewan Jenderal akan melakukan kudeta. Angkatan Darat menginginkan PKI, khususnya pada tingkat Politbiro dan Komite Sentral, untuk berpikir bahwa apabila Dewan Jenderal berhasil melakukan kudeta maka PKI akan dihancurkan. Unfortunately, Aidit, Syam, dan Biro Khusus termakan perangkap Angkatan Darat ini. Dalam ungkapan Roosa, Aidit, Syam dan Biro Khusus, serta para perwira pro-PKI ini memilih, “rencana mendahului,” kudeta rancangan Dewan Jenderal tersebut. Hal ini pada akhirnya berujung kepada kegagalan G-30-S dan pemenuhan dalih yang dibutuhkan oleh Angkatan Darat untuk menggasak PKI.

Di samping kelebihan dan keunggulan buku Roosa yang telah dijelaskan di atas, “Dalih Pembunuhan Massal” pun tentu memiliki kekurangan. Menurut saya, sedikitnya ada satu kekurangan dan satu saran yang dapat dialamatkan kepada buku tersebut. Untuk kelemahan, saya berpikir Roosa terlalu mengecilkan arti pembunuhan terhadap para perwira Angkatan Darat. Memang meski PRRI/Permesta dan peristiwa-peristiwa lain memiliki intensitas dan skala ancaman yang lebih besar, peristiwa pembunuhan ini agaknya harus dilihat lebih bijaksana. Bagaimanapun, pembunuhan ini tentu turut mendorong semangat para perwira Angkatan Darat dalam spektruk politik Kanan untuk benar-benar mengganyang eksponen G-30-S. Andaikata G-30-S tidak gegabah dengan membunuh para jenderal dan bertindak sesuai dengan rencana semula, yakni menghadapkan “Dewan Jenderal” ke Presiden Sukarno, Suharto dan Angkatan Darat tentu tidak memiliki dalih yang terlalu besar untuk benar-benar menghancurkan G-30-S, sekaligus dengan PKI yang dituduh sebagai dalang utama. Apabila para jenderal itu tidak terbunuh, mungkin Presiden Sukarno akan memberikan restu kepada G-30-S dan memenuhi keinginan PKI tentang reorganisasi susunan kabinet. Dalam tahap ini, saya pikir keadaan terbunuh/tidak terbunuhnya para jenderal turut menentukan jalan cerita G-30-S.

Selanjutnya, tentang saran. Saya hanya ingin menambahkan bahwa alangkah bergunanya apabila Roosa memberikan deskripsi mengenai konstelasi menjelaskan konstelasi para perwira Angkatan Darat, juga Angkatan Laut, Udara, dan Kepolisian, yang memiliki simpati atau antipati terhadap Sukarno serta PKI. Hal ini, menurut saya, penting. Keterangan ini akan memberikan gambaran yang baik mengenai penelusuran siapa-siapa saja, baik individu maupun kelompok, yang bisa dijadikan narasumber baru untuk memberikan keterangan berharga mengenai G-30-S. Selain itu, juga berguna untuk mendapatkan sudut pandang baru mengenai keadaan Angkatan Darat pada masa itu, misalnya mengenai infiltrasi Biro Khusus terhadap Angkatan Darat, kerjasama para perwira tinggi yang bekerjasama dengan CIA, dll.

Dengan tuntasnya uraian kekurangan dan saran, maka sebaiknya tuntas pulalah tulisan refleksi ini. Semoga berguna bagi Anda, para sidang pembaca. Silakan tuliskan komentar dan kritik Anda tentang tulisan ini atau buku Roosa secara keseluruhan, kalau berkehendak. Sekali lagi, saya hanya minta maaf kepada mereka yang memang patut dimintakan maafnya.

Terima kasih banyak.

Salam hangat,
mh.